RITUAL IBADAH HAJI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KERAKTER BANGSA
RITUAL IBADAH HAJI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KERAKTER BANGSA
Oleh : Moh. Safrudin, S.Ag, M.PdI
(Aktivis Gerakan Pemuda Ansor Sultra peneliti Sangia
Institute)
Mungkin kita merenung dalam hati dan ingin rasanya protes
atau setidaknya rasa kesal dari kalangan masyarakat, bahwa mengapa orang yang
sehari-hari menunaikan ibadah shalat, zakat, puasa, dan bahkan pernah
menunaikan ibadah haji, tetapi perilakunya belum menggambarkan makna dari kegiatan ritual
tersebut. Lantas disimpulkan bahwa,
ibadah ritual tidak selalu memberi dampak pada perilaku terpuji
sehari-hari. Selain itu, seringkali terdengar ungkapan pula bahwa pada setiap tahun jama’ah haji
meningkat, akan tetapi kasus-kasus korupsi tidak pernah surut. Bahkan, banyak
pejabat yang berhaji dan umrah
berkali-kali, tetapi perilaku korupnya tidak bisa berhenti.
Gambaran sebagaimana dikemukakan itu menunjukkan bahwa
seolah-olah antara kegiatan ritual ibadah terpisah dari kegiatan lain
sehari-hari yang lebih luas. Pertanyaannya adalah, adakah
yang salah dari pemahaman Islam selama ini. Sudah banyak orang
mengenalnya, bahwa Islam selalu
mengajarkan tentang kejujuran, amal shaleh, menghargai sesama, disiplin
waktu dan juga harus benar dalam
mendapatkan rizki. Seorang Islam tidak diperkenankan mengambil harta milik
orang lain tanpa hak. Untuk mendapatkan harta, seorang muslim harus selektif,
yaitu yang halal lagi baik dan membawa berkah.
Sebenarnya misi rasulullah yang utama adalah untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia. Maka artinya, seorang mulim dalam melakukan
apa saja harus didasari oleh akhlak mulia itu. Dalam berekonomi, politik, mengembangkan pendididikan, hukum,
bermasyarakat dan lain-lain harus
didasarkan pada akhlak yang luhur. Selalu dibayangkan bahwa, tidak akan mungkin seorang muslim melakukan
sesuatu yang bertentangan dengan
keyakinannya itu.
Namun sementara ini yang seringkali terjadi, bahwa masih
terdapat pemisahan yang sedemikian tajam antara persoalan agama dan persoalan kehidupan lain pada umumnya. Agama
dianggap sebagai variabel tersendiri, terpisah dari kegiatan kehidupan pada umumnya. Maka yang lahir adalah
kehidupan pribadi yang tidak utuh. Seolah-olah antara ke pasar sebagai upaya
mencari rizki dianggap berbeda dari ketika ke masjid untuk shalat berjama’ah.
Ke masjid dianggap mencari bekal ke akherat, sementara ke pasar dianggap untuk
mendapatkan rizki untuk mencukupi kegiatan di dunia.
Cara berpikir dikotomis seperti itulah kira-kira yang
menjadikan Islam tidak dipandang sebagai ajaran yang utuh dan komprehensif
hingga melahirkan perilaku yang terbelah itu. Maka akibatnya, antara kegiatan ritual dan kegiatan sosial
menjadi tidak menyatu. Akibatnya
kemudian muncul istilah shaleh ritual,
shaleh sosial dan shaleh intelektual. Perbedaan-perbedaan itu pula
yang seolah-olah ajaran Islam bisa dipilah-pilah seperti itu.
Lewat renungan yang lama dan mendalam, saya mendapatkan
rumusan bahwa Islam sedikitnya membawa lima misi besar untuk mengantarkan ummat
manusia agar menjadi selamat dan sekaligus berbahagia, baik di dunia maupun di akherat. Saya memandang bahwa Islam bukan
sebatas agama, melainkan juga peradaban.
Islam sebenarnya sebuah ajaran yang memiliki kekuatan pengubah dan sekaligus memberikan
petunjuk dan arah, agar manusia dalam
hidupnya mendapatkan derajat mulia. Orang yang demikian itu adalah memiliki karakter
yang unggul. Dengan demikian,
sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad bahwa, Islam datang di muka bumi
adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia atau karakter yang unggul.
Adapun kelima misi besar yang dibawa oleh Islam itu adalah
sebagai berikut. Pertama, Islam menjadikan ummatnya kaya ilmu.
Ilmu yang dimaksudkan di sini lingkupnya sangat luas, yaitu bersumber pada
ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat-ayat kawniyah. Islam
menganjurkan ummatnya untuk mempercayai yang ghaib, tetapi juga harus
memikirkan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi.
Mestinya sebagai implementasi dari konsep itu,
kaum muslimin dituntut mengkaji ilmu fisika, kimia, biologi,
matematika, psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain. Dalam mempelajari ilmu
ilmu dimaksud, sebagai pembeda dari kaum lainnya, harus
mengawali dengan menyebut nama Allah, yaitu bismirabbika. Selain
itu, kegiatan tersebut harus sampai pada kesadaran yang mendalam tentang keagungan
asma Allah. Disebutkan dalam al Qur’an iqra’ warabbuka al-akram. Artinya kegiatan
itu hingga berhasil membangun kesadaran tentang keharusan memuliakan Allah. Dengan demikian
mestinya, ummat Islam kaya ilmu
pengetahuan.
Kedua,
Islam menjadikan ummatnya meraih
prestasi unggul. Sebagai makhluk yang berprestasi unggul, setidak-tidaknya
memiliki empat ciri, yaitu (1) berhasil mengenal dirinya sebagai pintu mengenal
tuhannya, (2) bisa dipercaya sebagaimana dicontohkan oleh Muhammad sebagai anutannya adalah seorang
yang dikaruniai gelar al amien, (3) bersedia untuk mensucikan dirinya, baik
menyangkut pikirannya, hatinya dan raganya. Seorang muslim tidak selayaknya
mengambil harta atau mengkonsumsi makanan yang tidak halal, dan (4) seorang
muslim di manapun berada selalu memberi
manfaat bagi orang lain. Itulah manusia unggul yang diajarkan oleh Islam.
Ketiga,
Islam membangun tatanan sosial yang adil di tengah-tengah masyarakat manapun.
Keadilan dalam Islam dianggap sebagai sesuatu yang harus diwujudkan. Terdapat
banyak sekali ayat-ayat al Qur’an yang memerintahkan ummatnya agar berbuat
adil. Bahwa sebelum nabi Muhammad diutus sebagai rasul, masyarakat Arab terdiri
atas kabilah atau suku-suku yang beraneka ragam. Antar suku saling berebut
sumber-sumber ekonomi, pengaruh atau kekuasaan. Mereka yang kuat akan
memenangkan perebutan itu, hingga
menguasai sumber-sumber kebutuhan hidup.
Dalam perebutan itu,
mereka yang kalah, yaitu rakyat biasa bukannya ditolong melainkan
justru ditindas dan bahkan dijadikan
budak. Perbudakan sebagai sumber ketidak adilan ketika itu, berkembang luar biasa. Orang disamakan dengan binatang, yaitu dijual
belikan di pasar-pasar. Harkat dan martabat manusia menjadi tidak ada harganya,
sebagai akibat nafsu berkuasa dan menguasai sumber-sumber ekonomi itu. Dalam
kondisi seperti itu, Nabi Muhammad
datang untuk membangun tatanan sosial yang adil dan bermartabat itu.
Keempat, Islam memberikan tuntunan tentang bagaimana kegiatan
ritual seharunya dilakukan oleh setiap
muslim. Kegiatan ritual yang dimaksudkan
itu, seperti berdzikir, shalat,
puasa, haji dan lain-lain-lain. Kegiatan itu sangat penting untuk membangun
kekuatan spiritual bagi mereka yang menjalankannya. Melalui kegiatan ritual itu, maka terbangun
komunikasi antara manusia dengan Dzat
Yang Maha Pencipta. Dengan kegiatan ritual itu pula maka terbangun sikap mulia
seperti rendah hati, sabar, ikhlas, amanah, peduli sesama, saling mencintai dan
lain-lain.
Kegiatan ritual dalam Islam sedemikian penting, sehingga
untuk mendapatkan kesempurnaannya menjadikan banyak orang berdebat tentang
bagaimana kegiatan ritual itu dijalankan secara tepat. Maksudnya adalah baik, agar kegiatan yang
dilakukan persis sama dengan yang dilakukan oleh Rasulullah. Namun
keinginan yang berlebihan itu,
menjadikan banyak pihak rela berdebat
dan bahkan bertikai sehingga mengakibatkan ummat berpecah belah menjadi berbagai aliran atau kelompkim untuk
mencari cara yang paling tepat dalam menjalankan kegiatan ritual itu. Berbagai aliran dan organisasi sosial
keagamaan yang ada di mana-mana adalah selalu
terkait dengan
perbedaan-perbedaan dalam menjalankan kegiatan ritual.
Padahal sebenarnya,
perbedaan dalam kegiatan ritual sudah ada atau telah terjadi sejak
zaman Rasulullah. Perbedaan itu ternyata
juga terjadi dalam berbagai kasus. Misalnya,
dalam pelaksanaan shalat. Sementara sahabat merasa cukup, shalat dengan
tayammum tatkala tidak ada air. Namun
sahabat lain berpandangan bahwa harus
disempurnakan lagi tatkala ditemukan air. Perbedaan juga terkait dengan
pelaksanaan ibadah haji, dan
lain-lain. Setiap menghadapi
persoalan yang terkait dengan perbedaan pelaksanaan ritual itu, nabi selalu
bersikap arif, yaitu mengedepankan persatuan. Jika ada perbedaan, Nabi
membenarkan apa yang telah dilakukan oleh para sahabatnya. Dengan cara itu
maka, persatuan dan kesatuan di antara
para sahabat selalu berhasil dipelihara.
Kelima,
adalah konsep amal shaleh. Amal secara sederhana bisa diartikan bekerja,
sedangkan shaleh artinya adalah lurus, benar, tepat atau sesuai. Maka amal
shaleh sebenarnya bisa diartikan,
bekerja secara profesional.
Dengan beramal shaleh maka artinya adalah bahwa setiap perbuatan kaum muslimin harus
dilakukan secara baik, sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.
Suatu pekerjaan yang ditangani secara profesional akan mendatangkan hasil
maksimal.
Umpama misi Islam itu berhasil diimplementasikan oleh
ummatnya, sehingga ummat Islam menjadi kaya ilmu, meraih pribadi unggul, berada
pada tatanan sosial yang adil, menjalankan kegiatan ritual secara sempurna
untuk membangun spiritual dan pekerjaan selalu ditunaikan secara profesional, maka ummat Islam akan
meraih kemajuan yang luar biasa. Namun sayangnya, dari kelima misi Islam tersebut, oleh sementara kaum
muslimin, baru ditangkap
pada aspek ritualnya. Sedangkan aspek lainnya belum dipandang sepenuhnya
sebagai bagian dari Islam. Oleh karena itu, menjadi wajar manakala selama ini,
ummat Islam masih belum meraih kemajuan
sebagaimana yang selama ini diharapkan. Sebab,
Islam baru dipandang sebagai kegiatan ritual belaka.
Oleh karena itu, agar Islam menjadi kekuatan untuk membangun
prilaku dan karakter bangsa secara utuh,
maka ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad harus dipahami secara utuh
pula. Islam harus dipahami sebagai ajaran
yang setidaknya, membawa kelima misi
besar sebagaimana dikemukakan di muka. Islam semestinya tidak saja dipahami
sebagai agama, melainkan juga sebagai konsep tentang peradaban unggul. Konsep
tersebut harus diperkenalkan melalui pendidikan secara terus menerus, agar
ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., benar-benar menjadi kekuatan untuk membangun akhlak dan karakter
bangsa secara sempurna, dan tidak lagi dipahami
hanya sebagiannya saja,
sebagaimana yang kebanyakan terjadi selama ini. Wallahu a’lam
Komentar
Posting Komentar